<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>musstory</title>
	<atom:link href="http://musstory.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://musstory.wordpress.com</link>
	<description>berbicara dengan cerita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Jul 2011 09:28:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='musstory.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>musstory</title>
		<link>http://musstory.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://musstory.wordpress.com/osd.xml" title="musstory" />
	<atom:link rel='hub' href='http://musstory.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>nada</title>
		<link>http://musstory.wordpress.com/2008/06/09/nada/</link>
		<comments>http://musstory.wordpress.com/2008/06/09/nada/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 02:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musstory</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al lslam]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musstory.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Fatwa Ulama tentang ‘Nasyid Islami’ posted in Fatwa Ulama &#124; Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi Bagi kalangan aktivis pergerakan Islam, nasyid menjadi alternatif dari “cara bermusik”. Mereka berkukuh bahwa selama tidak mengandung hal-hal yang dilarang dalam syariat, hal itu diperbolehkan bahkan bisa menjadi sarana “dakwah”. Mereka seakan lupa, nasyid mereka hampir tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=34&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 class="firstheading"><a title="Fatwa Ulama tentang ‘Nasyid Islami’" rel="bookmark" href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2008/06/07/fatwa-ulama-tentang-nasyid-islami/"><span style="color:#aa6600;">Fatwa Ulama tentang ‘Nasyid Islami’</span></a></h2>
<div class="boxedin"><span class="posted">posted in <a title="View all posts in Fatwa Ulama" rel="category tag" href="http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/category/fatwa-ulama/"><span style="color:#995500;">Fatwa Ulama</span></a></span> |</div>
<div class="entry">
<p style="text-align:justify;"><em>Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bagi kalangan aktivis pergerakan Islam, nasyid menjadi alternatif dari “cara bermusik”. Mereka berkukuh bahwa selama tidak mengandung hal-hal yang dilarang dalam syariat, hal itu diperbolehkan bahkan bisa menjadi sarana “dakwah”. Mereka seakan lupa, nasyid mereka hampir tak ada bedanya dengan lagu kecuali pada syair. Syairnya pun -meski kadang berbahasa Arab- bahkan kerap mengandung kesyirikan dan kebid’ahan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Belakangan, berkembang di kalangan muslimin satu jenis <span id="more-34"></span>hiburan yang dikenal dengan <em>nasyid Islami</em>. Nasyid ini dianggap sebagai alternatif pengganti lagu dan musik yang didendangkan oleh para penyanyi umumnya. Masing-masing dari kelompok nasyid tersebut menggunakan bermacam variasi dalam menampilkan nasyidnya. Ada yang disertai rebana saja, yang kadang disertai dengan tepukan tangan atau alat-alat tertentu, lalu dinyanyikan oleh orang yang bersuara merdu atau secara berkelompok. Ada pula yang meluas, dengan menggunakan semua alat musik yang digunakan oleh para pelantun lagu-lagu yang tidak senonoh. Bahkan ada yang tidak berbeda antara lagu-lagu tersebut dengan apa yang dinamakan <em>nasyid Islami</em> kecuali syairnya saja. Adapun irama, musik dan lantunannya, tidak ada perbedaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila merunut sejarah, kita tidak mengetahui dalam sejarah kaum muslimin cara berdakwah menggunakan sarana-sarana seperti ini, kecuali dari kelompok Shufiyyah (Sufi) yang dikenal gemar membuat bid’ah dan menganggap baik hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya g. Sehingga sebagian ulama menghukumi mereka dengan <em>zindiq</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Asy-Syafi’i <em>rahimahullahu</em> berkata: “Aku meninggalkan Irak, dengan munculnya sesuatu yang disebut at-taghbir yang dibuat oleh kaum <em>zindiq</em>. Mereka memalingkan manusia dari Al-Qur`an.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam <strong>Al-Amru bil Ma’ruf</strong> hal. 36, Abu Nu’aim dalam <strong>Al-Hilyah</strong>, 9/146. Al-Albani berkata: “Sanadnya shahih. Ibnul Qayyim <em>rahimahullahu</em> menyebutkan dalam Ighatsatul Lahafan (1/229), bahwa penukilan dari Al-Imam Asy-Syafi’i <em>rahimahullahu</em> adalah <em>mutawatir</em>.” Lihat <strong>At-Tahrim</strong> hal. 163)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Ahmad <em>rahimahullahu</em> ditanya tentangnya. Beliau menjawab: “Itu adalah bid’ah.” Lalu beliau ditanya: “Bolehkah kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab: “Jangan.” (<strong>Majmu’ Fatawa</strong>, 11/569)</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Dawud <em>rahimahullahu</em> berkata: “Hal itu (ucapan Al-Imam Ahmad rahimahullahu) tidak mengherankan bagiku.” (<strong>Al-Inshaf</strong>, Al-Mardawi, 8/343)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>At-Taghbir</em> adalah bait-bait syair yang mengajak bersikap <em>zuhud</em> terhadap dunia, dilantunkan oleh seorang penyanyi. Sebagian yang hadir kemudian memukulkan potongan ranting di atas hamparan tikar atau bantal, disesuaikan dengan lantunan lagunya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sini, nampaklah bahwa apa yang diistilahkan dengan <em>nasyid Islami</em> tidak lain adalah bid’ah yang telah dimunculkan oleh kaum Shufiyah, lalu diberi polesan <em>‘Islami’</em> agar diterima oleh masyarakat yang tidak mengerti hakikat bid’ah ini. Seperti halnya kebatilan-kebatilan lain yang disandarkan kepada Islam, <em>musik Islami</em>, <em>pacaran Islami</em>, <em>demokrasi Islami</em>, <em>demonstrasi Islami</em>, atau embel-embel <em>Islami</em> yang lainnya. Namun, <em>alhamdulillah</em>, syariat yang mulia ini telah mengajari kita untuk tidak memandang sesuatu hanya sekadar melihat namanya. Yang terpenting adalah hakikat dari apa yang terkandung di balik nama tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, sebagai nasihat bagi kaum muslimin, kami sebutkan beberapa fatwa para ulama seputar hukum perkara yang disebut dengan <em>nasyid Islami</em> ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam ditanya tentang sekelompok orang yang bergabung untuk melakukan berbagai dosa besar seperti pembunuhan, perampokan, pencurian, minum khamr, dan yang lainnya. Kemudian salah seorang di antara Syaikh yang dikenal memiliki kebaikan dan mengikuti As-Sunnah ingin mencegah mereka dari hal tersebut. Namun tidak memungkinkan baginya melakukan hal itu kecuali dengan cara membuat sebuah <em>sama’</em> (nasyid) untuk mereka, di mana mereka berkumpul padanya dengan niat ini. <em>Sama’</em> ini menggunakan rebana tanpa alat gemerincing, dan nyanyian seorang penyanyi dengan syair-syair yang diperbolehkan tanpa menggunakan seruling.</p>
<p style="text-align:justify;">Tatkala dilakukan cara ini, di antara kelompok tersebut ada yang bertaubat. Dan orang yang sebelumnya tidak shalat, suka mencuri dan tidak berzakat, menjadi berhati-hati dari syubhat dan mengerjakan kewajiban, serta menjauhi perkara yang diharamkan. Maka apakah dibolehkan nasyid yang dibuat Syaikh ini dengan cara tersebut, karena memberi dampak kemaslahatan? Dalam keadaan tidak memungkinkan mendakwahi mereka kecuali dengan cara ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau <em>rahimahullahu</em> menjawab dengan panjang lebar. Di antara yang beliau katakan:</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya Syaikh tersebut ingin membuat kelompok yang hendak melakukan berbagai dosa besar itu bertaubat. Namun tidak memungkinkan baginya hal itu kecuali dengan cara yang disebutkan, berupa metode yang bid’ah. Ini menunjukkan bahwa Syaikh tersebut jahil (tidak tahu) tentang metode-metode syar’i yang menyebabkan para pelaku maksiat bertaubat, atau tidak mampu melakukannya. Karena sesungguhnya Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan tabi’in, mendakwahi orang yang lebih buruk dari mereka yang disebutkan ini, dari kalangan orang-orang kafir, <em>fasiq</em> dan pelaku maksiat, dengan cara-cara yang syar’i. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah berikan kecukupan kepada mereka dengan cara itu dari berbagai cara-cara bid’ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak boleh dikatakan bahwa tidak ada cara syar’i yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> utus Nabi-Nya dengannya, yang dapat menjadikan para pelaku maksiat bertaubat. Sebab telah diketahui secara pasti dan penukilan yang mutawatir bahwa orang-orang, yang tidak ada yang mampu menghitung jumlahnya kecuali Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, telah bertaubat dari kekafiran, kefasikan, kemaksiatan. Tidak disebutkan padanya berkumpul dengan cara bid’ah sebagaimana yang dilakukan. Bahkan, orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti mereka dengan kebaikan -dan mereka adalah para wali Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang bertakwa dari kalangan umat ini- telah bertaubat kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan cara-cara yang syar’i.” (<strong>Majmu’ Fatawa</strong>, 11/624-625)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitabnya <strong>Tahrim Alat Ath-Tharb</strong> (hal. 181), setelah beliau menyebutkan hukum nyanyian dan musik, beliau berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">“Masih tersisa bagiku kalimat terakhir, yang dengannya aku menutup risalah yang bermanfaat ini -<em>insya Allah Subhanahu wa Ta’ala</em>-. Yaitu seputar apa yang mereka sebut dengan istilah <em>nasyid Islami</em> atau <em>nasyid agamis</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka aku mengatakan: Telah jelas pada pasal ketujuh tentang syair-syair yang boleh didendangkan dan yang tidak diperbolehkan. Sebagaimana pula telah jelas sebelumnya tentang haramnya seluruh alat musik, kecuali <em>duf</em> (rebana/gendang yang terbuka bagian bawahnya) pada hari raya dan pesta pernikahan, untuk para wanita. Dari pasal terakhir ini, kami jelaskan bahwa tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kecuali dengan apa yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalagi mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang diharamkan! Karena itulah, para ulama mengharamkan nyanyian kaum Shufiyyah. Dan pengingkaran mereka sangat keras terhadap orang-orang yang menganggapnya halal. Apabila seorang pembaca menghadirkan dalam benaknya prinsip-prinsip yang kokoh ini, akan jelas baginya dengan sejelas-jelasnya, bahwa tidak ada perbedaan dari sisi hukum antara nyanyian kaum Shufi dengan <em>nasyid Islami</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan pada <em>nasyid Islami</em> terdapat hal negatif lainnya. Yaitu terkadang nasyid tersebut didendangkan seperti lantunan nyanyian-nyanyian yang tidak punya rasa malu. Dan nasyid itu dibuat dengan merujuk gaya musik ala timur ataupun ala barat, yang membuat girang para pendengarnya, membuat mereka berjoget, serta membenamkan alam sadar mereka. Sehingga, yang menjadi tujuan utamanya adalah lantunan dan kegembiraan, bukan hanya sekadar nasyid. Ini adalah bentuk penyelisihan baru, yaitu <em>tasyabbuh</em> (menyerupai) orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak punya rasa malu. Muncul pula anak penyimpangan lainnya, yaitu <em>tasyabbuh</em> dengan mereka dalam hal berpaling dari Al-Qur`an dan meninggalkannya. Sehingga mereka termasuk dalam keumuman sesuatu yang dikeluhkan oleh Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari kaumnya, sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;">وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini suatu yang tidak diacuhkan.”</em> (<strong>Al-Furqan: 30</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya aku benar-benar mengingat bahwa tatkala aku berada di Damaskus -dua tahun sebelum aku berhijrah ke sini (Amman)- sebagian pemuda muslim mulai bernyanyi dengan nasyid yang maknanya masih selamat (dari penyimpangan), dengan tujuan menyaingi nyanyian kaum Shufiyyah, seperti <em>qashidah Al-Bushiri</em> dan yang lainnya. Nasyid tersebut terekam di kaset.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak berapa lama kemudian, nasyid tersebut sudah dibarengi pukulan rebana! Mulanya, mereka menggunakannya pada acara-acara pesta pernikahan, dengan alasan bahwa menggunakan rebana pada acara tersebut boleh. Kemudian kaset tersebut menyebar dan dikopi menjadi beberapa kaset salinan. Tersebarlah penggunaannya di sekian banyak rumah. Merekapun menyimaknya siang malam, baik dalam sebuah acara tertentu ataupun tidak. Dan hal tersebut menjadi hiburan mereka!</p>
<p style="text-align:justify;">Keadaan ini tidak terjadi melainkan karena hawa nafsu yang mendominasi dan kebodohan terhadap tipu daya setan. Sehingga hal itu memalingkan mereka dari perhatian terhadap Al-Qur`an dan mendengarnya, apalagi mempelajarinya. Al-Qur`an pun menjadi sesuatu yang ditinggalkan, sebagaimana yang disebut dalam ayat yang mulia tersebut. Al-Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahullahu</em> berkata dalam tafsirnya (3/317): “Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman mengabarkan tentang Rasul dan Nabi-Nya Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa ia berkata:</p>
<p style="text-align:right;">وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.”</em> (<strong>Al-Furqan: 30</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Hal itu karena orang-orang musyrik tidak mau mendengar Al-Qur`an dan menyimaknya, sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;">وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لاَ تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al-Qur`an ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)’.”</em> (<strong>Fushshilat: 26</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah jika dibacakan Al-Qur`an kepada mereka, mereka gaduh dan memperbanyak percakapan pada perkara yang lain, sehingga mereka tidak mendengarnya. Hal ini termasuk meninggalkannya. Tidak beriman dengannya dan tidak membenarkannya termasuk mengabaikan Al-Qur`an. Tidak mentadabburi dan memahaminya termasuk mengabaikannya. Tidak beramal dengannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangannya termasuk mengabaikannya. Berpaling darinya menuju kepada selainnya berupa syair, perkataan, nyanyian, atau yang melalaikan, atau sebuah ucapan atau satu metode yang diambil dari selainnya, termasuk mengabaikannya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Yang Maha Pemberi Anugerah, Maha Kuasa atas segala apa yang Dia inginkan, agar menghindarkan kita dari kemurkaan-Nya, dan mengantarkan kita menuju apa yang diridhai-Nya berupa menghafal kitab-Nya dan memahaminya, serta melaksanakan kandungannya, baik di malam maupun siang hari, dengan cara yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi.” (<strong>Tahrim Alat Ath-Tharb</strong>, hal. 181-182)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin <em>rahimahullahu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau <em>rahimahullahu</em> ditanya: “Saya pernah mendengar sebagian nasyid Islami dan di dalamnya terdapat lantunan-lantunan yang menyerupai nyanyian. Tanpa musik, namun disertai suara yang indah. Bagaimanakah hukumnya? Sebagai pengetahuan, ada sebagian ikhwan yang tidak senang dengannya dan mengatakan bahwa hal itu termasuk amalan kaum Shufiyyah. Aku berharap dari Syaikh yang mulia untuk memberi jawaban.”</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab setelah mengucapkan <em>hamdalah</em> dan shalawat kepada Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align:justify;">“Nasyid-nasyid yang ditanyakan oleh penanya ini, yang dinamakan dengan <em>nasyid Islami</em>, di dalamnya terdapat sebagian perkara yang terlarang. Di antaranya, nasyid tersebut dilantunkan seperti nyanyian para biduan, yang bernyanyi dengan nyanyian-nyanyian tidak senonoh. Kemudian, nasyid itu dilantunkan dengan suara yang indah dan merdu. Bahkan terkadang dibarengi dengan tepuk tangan, atau memukul piring dan yang semisalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu tidak ada tepuk tangan dan pukulan piring atau yang semisalnya, dan si penanya berkata bahwa ia dilantunkan seperti nyanyian yang tidak senonoh, dengan suara yang indah dan merdu. Maka, kami berpandangan agar nasyid seperti ini tidak didengarkan, karena dapat menimbulkan fitnah dan menyerupai lantunan nyanyian para biduan yang tidak punya rasa malu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya, yang lebih baik dari itu ialah mendengarkan nasihat-nasihat yang bermanfaat, yang diambil dari Kitab Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan Sunnah Rasul-Nya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta perkataan para sahabat dan para imam dari kalangan ahli ilmu dan agama. Karena, di dalamnya sudah terdapat kecukupan dan kepuasan dari yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika seseorang terbiasa tidak mengambil sesuatu sebagai nasihat kecuali dengan cara tertentu, seperti lantunan nyanyian, hal itu akan menyebabkan dia tidak dapat mengambil manfaat dengan nasihat-nasihat yang lain. Sebab jiwanya telah terbiasa mengambil nasihat hanya dengan cara ini. Hal ini sangat berbahaya, bahkan dapat menyebabkan seseorang bersikap zuhud (tidak butuh) terhadap nasihat Al-Qur`an yang mulia dan Sunnah Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta perkataan para ulama dan imam.” (diterjemahkan dari kaset <strong>Nur ‘Alad Darb</strong>, kaset no. 258, bagian kedua)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Al-’Allamah Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya, sebagian nasyid yang banyak dilantunkan para pelajar di berbagai acara dan tempat pada musim panas, yang mereka namakan dengan <em>nasyid-nasyid Islami</em>, bukanlah dari Islam. Sebab, hal itu telah dicampuri dengan nyanyian, melodi, dan membuat girang yang membangkitkan (gairah) para pelantun nasyid dan pendengarnya. Juga mendorong mereka untuk bergoyang serta memalingkan mereka dari <em>dzikrullah</em>, bacaan Al-Qur`an, mentadabburi ayat-ayatnya, dan mengingat apa-apa yang disebut di dalamnya berupa janji, ancaman, berita para nabi dan umat-umat mereka, serta hal-hal lain yang bermanfaat bagi orang yang mentadabburinya dengan sebenar-benar tadabbur, mengamalkan kandungannya, dan menjauhi larangan-larangan yang disebutkan di dalamnya, dengan mengharap wajah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, dari ilmu dan amalannya.” (<strong>Iqamatud Dalil ‘Alal Man’i Minal Anasyid Al-Mulahhanah wat Tamtsil</strong> hal. 6, dari situs sahab.net)</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa mengqiyaskan nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan lantunan nyanyian, dengan syair-syair para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> tatkala mereka membangun Masjid Nabawi, menggali parit Khandaq, atau mengqiyaskan dengan syair perjalanan yang biasa diucapkan para sahabat untuk memberi semangat kepada untanya di waktu safar, maka ini adalah <em>qiyas</em> yang batil. Sebab para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> tidak pernah bernyanyi dengan syair-syair tersebut dan menggunakan lantunan-lantunan yang membuat girang, yang membangkitkan para pelantun nasyid dan pendengarnya, seperti yang dilakukan oleh sebagian pelajar di berbagai acara dan tempat pada musim panas. Namun para sahabat g hanya mencukupkan melantunkan syair-syair tersebut dengan mengangkat suara. Tidak disebutkan bahwa mereka berkumpul untuk melantunkan nasyid dengan satu suara, seperti yang dilakukan para pelajar di zaman kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebaikan yang hakiki adalah mengikuti apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallâhu ‘anhum</em>. Kejahatan yang sesungguhnya adalah dengan menyelisihi mereka, lalu mengambil perkara-perkara baru yang bukan dari bimbingan mereka, serta tidak dikenal pada zaman mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua itu berasal dari bid’ah kaum Shufiyyah, yang menjadikan agama mereka sebagai permainan serta hal yang melalaikan. Telah diriwayatkan tentang bahwa mereka berkumpul untuk melantunkan nasyid dengan irama secara berlebih-lebihan serta melampaui batas dalam menjunjung Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Mereka berkumpul untuk melakukan hal itu dan menamakannya dengan dzikir, padahal pada hakikatnya merupakan olok-olokan terhadap Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan dzikir-Nya. Dan siapapun yang menjadikan kaum Shufi yang sesat sebagai pendahulu dan panutan, maka itu adalah seburuk-buruk teladan yang telah mereka pilih untuk diri-diri mereka.” (ibid, hal. 7-8)</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga berkata: “Sesungguhnya, penamaan nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan nyanyian sebagai <em>nasyid Islami</em>, menyebabkan timbulnya perkara-perkara jelek dan berbahaya. Di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menjadikan bid’ah ini sebagai bagian ajaran Islam dan penyempurnanya. Ini mengandung unsur penambahan terhadap syariat Islam, sekaligus pernyataan bahwa syariat Islam belum sempurna di zaman Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini bertentangan dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.”</em> (<strong>Al-Ma`idah: 3</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat yang mulia ini merupakan nash yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam bagi umat ini. Sehingga, pernyataan bahwa nasyid yang berlirik (lagu) tersebut sebagai <em>Islami</em>, mengandung unsur penentangan terhadap nash ini, dengan menyandarkan nasyid-nasyid yang bukan dari ajaran Islam kepada Islam dan menjadikannya sebagai bagian darinya.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Menisbahkan kekurangan kepada Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam menyampaikan dan menjelaskan kepada umatnya. Di mana beliau tidak menganjurkan mereka melantunkan nasyid secara berjamaah dengan lirik lagu. Tidak pula beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengabarkan kepada mereka bahwa itu adalah <em>nasyid Islami</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Menisbahkan kepada Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya <em>radhiyallâhu ‘anhum</em> bahwa mereka telah menelantarkan salah satu perkara Islam dan tidak mengamalkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Menganggap baik bid’ah nasyid yang dilantunkan dengan irama nyanyian, dan memasukkannya sebagai perkara Islam. Telah disebutkan oleh Asy-Syathibi dalam <strong>Al-I’tisham</strong> apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Habib dari Ibnul Majisyun, dia berkata: “Aku mendengar Malik (bin Anas) berkata: ‘Barangsiapa berbuat bid’ah di dalam Islam dan ia menganggapnya baik, maka sungguh dia telah menganggap bahwa Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengkhianati risalah. Sebab Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.”</em> (<strong>Al-Ma`idah: 3</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, apa yang pada masa itu tidak menjadi agama, maka pada hari inipun tidak menjadi agama.” (ibid, hal. 11)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menyebutkan dalam kitabnya <strong>Al-Khuthab Al-Minbariyyah</strong> (3/184-185):</p>
<p style="text-align:justify;">“Di antara yang perlu menjadi perhatian adalah apa yang banyak beredar di antara para pemuda yang semangat menjalankan agama, berupa kaset-kaset yang terekam padanya nasyid-nasyid, dengan suara berjamaah, yang mereka namakan <em>nasyid Islami</em>. Ini adalah salah satu jenis nyanyian. Terkadang disertai suara yang menimbulkan fitnah, dan dijual di beberapa toko/studio bersama dengan kaset rekaman Al-Qur`an Al-Karim serta ceramah-ceramah agama.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penamaan nasyid-nasyid ini dengan <em>nasyid Islami</em> adalah pemberian nama yang keliru. Sebab Islam tidak pernah mensyariatkan nasyid kepada kita.</strong> Islam hanya mensyariatkan kepada kita berdzikir kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, membaca Al-Qur`an, dan mempelajari ilmu yang bermanfaat. Adapun nasyid-nasyid tersebut, hal itu berasal dari agama kelompok bid’ah Shufiyyah, yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan hal yang melalaikan. Menjadikan nasyid sebagai agama adalah menyerupai kaum Nasrani, yang menjadikan bernyanyi secara berjamaah dan lantunan yang membuat orang bergoyang sebagai agama mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Tindakan yang wajib adalah berhati-hati dari nasyid-nasyid ini, dan melarang penjualan serta peredarannya, untuk mencegah akibat buruk yang ditimbulkannya, berupa fitnah dan semangat yang tidak terkontrol, serta mengadu domba di kalangan kaum muslimin.” (<strong>As`ilah ‘an Al-Manahij Al-Jadidah</strong>, Jamal bin Furaihan Al-Haritsi, hal. 20-21)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perbedaan ‘Nasyid Islami’ dengan Dendangan Syair para Sahabat Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"> Mereka mendendangkan syair-syair mereka pada waktu tertentu, seperti ketika safar (yang disebut dengan <em>hida’</em>), dengan tujuan mengusir rasa kantuk. Atau tatkala melakukan satu pekerjaan yang cukup berat, seperti membangun rumah, parit, dan yang semisalnya (yang disebut <em>rajz</em>). Sedangkan <em>nasyid Islami</em> menjadi hiburan di setiap waktu, dengan alasan sebagai alternatif pengganti lagu-lagu cabul dan tidak punya rasa malu. Sa’id bin Al-Musayyab <em>rahimahullahu</em> berkata:</p>
<p style="text-align:right;">إِنِّي لَأَبْغَضُ الْغِنَاءَ وَأُحِبُّ الرَّجْزَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya aku membenci nyanyian dan menyukai rajz.”</em> (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam <strong>Al-Mushannaf</strong>, 11/19743. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam <strong>At-Tahrim</strong> hal. 279)</p>
<p style="text-align:justify;"> Syair-syair yang mereka lantunkan tersebut diistilahkan dengan nasyid kaum Arab, bukan <em>nasyid Islami</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"> Tujuan mereka melantunkan bait-bait syair tersebut adalah untuk meringankan beban yang sedang mereka alami, dari keletihan di waktu safar atau bekerja keras. Sedangkan <em>nasyid Islami</em> dibuat dengan tujuan sebagai ‘sarana dakwah’. Agar orang yang mendengarnya menjadi sadar dari perbuatan maksiat yang dia lakukan, sebagaimana fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullahu</em> yang telah lalu. Atau dengan alasan sebagai alternatif pengganti lagu-lagu cabul.</p>
<p style="text-align:justify;"> Lantunan syair mereka tidak mendorong untuk bergoyang dan melenggak-lenggokkan badan, berbeda dengan yang disebut <em>nasyid Islami</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"> Lantunan syair-syair mereka tidak diiringi alat musik. Sedangkan apa yang disebut <em>nasyid Islami</em>, mayoritasnya disertai dengan alat musik.</p>
<p style="text-align:justify;"> Lantunan syair mereka tidak disertai dengan notasi (do-re-mi) seperti halnya nyanyian. Berbeda dengan yang disebut <em>nasyid Islami</em> yang menggunakan notasi nyanyian, dengan lirik yang sama seperti nyanyian secara umum. Bahkan di antara nasyid tersebut ada yang tidak memiliki perbedaan sama sekali dengan lagu-lagu cabul, kecuali gubahannya saja. Adapun lirik dan lantunannya sama persis, tidak berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;"> Mereka melantunkan syair-syair tersebut secara individu, bukan berjamaah. Tidak seperti yang mereka namakan <em>nasyid Islami</em>. (Lihat kitabal <strong>Bayan li Akhtha` Ba’dhil Kuttab</strong>, Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 341, kitab <strong>At-Tahrim</strong>, Al-Albani hal. 101)</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> senantiasa membimbing kita untuk mengenal <em>al-haq</em> dan mengikutinya, dan memperlihatkan kepada kita kebatilan agar kita dapat menjauhkan diri darinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu a’lam bish-shawab.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><a href="http://www.akhwat.web.id">www.akhwat.web.id</a></em></p>
<p style="text-align:right;"><em>(Sumber: Majalah Asy Syariah, Vol. IV/No. 40/ 1429H/2008, kategori: Kajian Utama, hal. 21-26, dicopy dari <a href="http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=656">http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=656</a>)</em></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musstory.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musstory.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musstory.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musstory.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musstory.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musstory.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musstory.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musstory.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musstory.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musstory.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musstory.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musstory.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musstory.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musstory.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musstory.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musstory.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=34&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musstory.wordpress.com/2008/06/09/nada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc30feeab31c41e9f76206e273929c15?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>beberapa kabar kedatangan Rasul SAW</title>
		<link>http://musstory.wordpress.com/2008/04/14/efek-rumah-kaca/</link>
		<comments>http://musstory.wordpress.com/2008/04/14/efek-rumah-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 06:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musstory</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al lslam]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musstory.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Alquran &#62; Surah Al Baqarah&#62; Ayat 129 Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur&#8217;an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Alquran &#62; Surah Al Maa-idah&#62; Ayat 19 Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=32&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="3" cellpadding="3" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(2, 129, 0);">Alquran &gt; Surah Al Baqarah&gt; Ayat 129<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur&#8217;an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(5, 19, 1);">Alquran &gt; Surah Al Maa-idah&gt; Ayat 19<span id="more-32"></span><br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: &#8220;Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan&#8221;. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(6, 20, 2);">Alquran &gt; Surah Al An&#8217;aam&gt; Ayat 20<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(7, 157, 3);">Alquran &gt; Surah Al A&#8217;raaf&gt; Ayat 157<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur&#8217;an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(26, 196, 4);">Alquran &gt; Surah Asy Syu&#8217;araa&#8217;&gt; Ayat 196<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(26, 197, 5);">Alquran &gt; Surah Asy Syu&#8217;araa&#8217;&gt; Ayat 197<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israel mengetahuinya?</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(46, 10, 6);">Alquran &gt; Surah Al Ahqaaf&gt; Ayat 10<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur&#8217;an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israel mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur&#8217;an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim&#8221;.</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(48, 29, 7);">Alquran &gt; Surah Al Fath&gt; Ayat 29<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.</td>
</tr>
<tr>
<td align="left"><a name="Quran" href="showHitDirectly(61, 6, 8);">Alquran &gt; Surah Ash Shaff &gt; Ayat 6<br />
</a></td>
</tr>
<tr>
<td>Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: &#8220;Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)&#8221; Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: &#8220;Ini adalah sihir yang nyata&#8221;.</td>
</tr>
<tr>
<td><a name="Bayan" href="http://hadith.al-islam.com/Bayan/Display.asp?ID=1101&amp;Lang=ind">Hadis </a><br />
Barangsiapa yang membantu menyiapkan persiapan kepada orang yang berperang pada jalan Allah maka sama halnya dia sudah ikut berperang. Dan barangsiapa yang menjaga atau memperhatikan keluarga yang ditinggalkannya dengan baik maka berarti dia&#8230;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<p> </p>
<p>sumber : <a href="http://www.al-islam.com">www.al-islam.com</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musstory.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musstory.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musstory.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musstory.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musstory.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musstory.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musstory.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musstory.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musstory.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musstory.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musstory.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musstory.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musstory.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musstory.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musstory.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musstory.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=32&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musstory.wordpress.com/2008/04/14/efek-rumah-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc30feeab31c41e9f76206e273929c15?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potensi Alam di SulSel bag.2</title>
		<link>http://musstory.wordpress.com/2008/03/11/potensi-alam-di-sulsel-bag2/</link>
		<comments>http://musstory.wordpress.com/2008/03/11/potensi-alam-di-sulsel-bag2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 08:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musstory</dc:creator>
				<category><![CDATA[tugas kkpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musstory.wordpress.com/2008/03/11/potensi-alam-di-sulsel-bag2/</guid>
		<description><![CDATA[Danau Matano, Keindahan yang Tersembunyi Oleh Amril Taufik Gobel November 4th, 2007 pukul 10:58 pm   Keterangan foto: Sunrise di Danau Matano (foto:Istimewa)  Mungkin sebahagian orang di Indonesia kurang mengenal atau mendengar nama Danau Matano, yang merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan terdalam ke-8 di dunia (600mtr depth), bahkan di Sulawesi Selatan, danau Tempe [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=31&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 class="entry-title">Danau Matano, Keindahan yang Tersembunyi</h2>
<p class="entry-metainfo">Oleh <a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/author/amril/" title="Posts by Amril Taufik Gobel"><font color="#990000">Amril Taufik Gobel</font></a> November 4th, 2007 pukul 10:58 pm</p>
<div class="abn-entry-text"><a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/sunrise-matano.jpg" title="Sunrise Matano"></a><a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano1.jpg" title="Danau Matano-1"></a><a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano2.jpg" title="Danau Matano-2"></a><a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano3.jpg" title="Danau Matano-3"></a><a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/sunrise-matano.jpg" title="Sunrise Matano"><img width="255" src="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/sunrise-matano.jpg" alt="Sunrise Matano" height="172" /></a> </p>
<p><em>Keterangan foto: Sunrise di Danau Matano (foto:Istimewa)</em> </p>
<p>Mungkin sebahagian orang di Indonesia kurang mengenal atau mendengar nama <strong>Danau <a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/map-matano.JPG" title="Peta Danau Matano"></a>Matano</strong>, yang merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan terdalam ke-8 di dunia (600mtr depth), bahkan di Sulawesi Selatan, danau Tempe (Wajo) dan danau Towuti (Malili) lebih sering diperbincangkan. Namun, bagi masyarakat Sorowako umumnya, dan PT International Nickel Indonesia khususnya, perusahaan penambangan nikel terbesar dunia yang area pertambangannya meliputi Sorowako- danau Matano merupakan sumber energi dan penghidupan yang sangat vital, sehingga ketergantungan terhadap danau Matano ini sangat tinggi. Danau Matano sendiri terletak di Sorowako, kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu TImur, Sulawesi Selatan. Letaknya berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.<span id="more-31"></span></p>
<p><span></span></p>
<p><a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/map-matano.JPG" title="Peta Danau Matano"><img align="left" src="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/map-matano.JPG" alt="Peta Danau Matano" /></a></p>
<p>Dengan panorama indah yang dikelilingi oleh pegunungan Verbec, danau Matano ini sangat layak dijadikan tujuan wisata. Pasir pantainya yang putih, dengan ombak yang ramah namun masih memungkinkan untuk berolahraga air semisal renang, layar, ski air, kano dan menyelam. Kecerahan air yang mencapai 23meter sangat menggoda untuk olahraga <em>snorkling</em> dan <em>diving</em>, apalagi ikan-ikan yang hidup di danau ini merupakan ikan yang sangat khas dan tidak dijumpai di daerah lain. Beberapa event lokal dan nasional pernah diselenggarakan disana, sebutlah lomba perahu dayung tahunan, Sunday market, year end party PT INCO, sampai kompetisi renang nasional PRSI menyeberangi danau Matano. Di daerah Sorowako ini, ada tiga pantai yang kerap dikunjungi masyarakat dan karyawan PT INCO yakni pantai Old Camp, pantai Idee (Pontada) dan pantai Kupu-kupu (Salonsa). Di sisi danau lainnya, desa Nuha, Tapulemo dan desa Matano, juga memanfaatkan danau matano sebagaimana masyarakat Sorowako.</p>
<p> <a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano1.jpg" title="Danau Matano-1"><img src="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano1.jpg" alt="Danau Matano-1" /></a></p>
<p><a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano2.jpg" title="Danau Matano-2"><img src="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano2.jpg" alt="Danau Matano-2" /></a></p>
<p> <a href="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano3.jpg" title="Danau Matano-3"><img src="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano3.jpg" alt="Danau Matano-3" /></a></p>
<p><em>Keterangan foto : Pemandangan danau Matano yang memukau (foto : Muh.Ruslailang Noertika)</em></p>
<p>Danau Matano, yang berarti mata air dalam bahasa Dongi, bahasa asli Sorowako, terbentuk dari ribuan mata air yang muncul akibat gerakan tektonik; lipatan dan patahan kerak bumi yang terjadi di sekitar daerah litosfir yang membutuhkan waktu lama untuk terisi oleh air dan membentuk danau sekitar 4juta tahun yang lalu. Di area Sorowako, juga terbentuk dua danau lainnya, danau Mahalona (kedalaman 60mtr) dan danau Towuti (kedalaman 200mtr). Air yang mengalir dari Danau Matano dialirkan melalui sungai Larona ke Danau Mahalona kemudian ke Danau Towuti dan selanjutnya menuju muara melalui sungai Malili dan berakhir di Laut Bone. Sungai inilah yang menjadi penggerak dua PLTA milik PT Inco Tbk, yaitu PLTA Larona dan PLTA Balambano. Bahkan tidak lama lagi Inco juga akan membangun PLTA yang ketiga yang sumber energinya berasal dari Danau Matano, yaitu PLTA Karebbe.</p>
<p>Danau Matano tak hanya terkenal karena panorama alamnya yang mempesona. Di sana juga ternyata menyimpan banyak keunikan. Dari letak dan komposisi kimianya yang khas hingga kekayaan fauna endemik yang hanya dapat ditemukan pada danau tersebut. Dan yang paling membanggakan pula, dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan tidak terjadi perubahan signifikan terhadap ekosistem danau sejak 1930-an hingga saat ini. Bahkan karena kekhasannya, beberapa ilmuan menilai danau di Sorowako, terutama Danau Matano patut diusulkan menjadi <em>world heritage</em>. Bagi PT Inco, hasil kajian dari para ahli lingkungan tentu sangat menggembirakan. Fakta ini sekaligus membantah tudingan banyak pihak bahwa danau yang digunakan PT Inco sebagai PLTA telah tercemar limbah PT Inco.</p>
<p>Posisi dasar danau sangat khas, dimana letaknya lebih rendah daripada permukaan laut. Suatu gejala alam yang langka di dunia, hanya dilampaui oleh laut Mati, di lembah Jordan Mesir. Danau Matano juga bersifat isotermal, yang berarti beda suhu antara permukaan dan dasar danau kurang dari dua derajat celsius. Kecerahan air 23 m, padahal banyak danau lain di Indonesia hanya beberapa meter bahkan dm saja. Sifat khas lain di jumpai di dekat Desa Matano dimana beberapa mata air muncul dari dasar danau. Lalu pada kedalaman 200-300 m dapat dijumpai kolam ikan dengan indikasi aliran gravitasi di dasar danau. Jenis flora dan fauna yang hidup di Danau Matano bersifat endemic yang masih terjaga dengan baik. Secara awam, flora dan fauna endemik adalah mahluk hidup yang hanya ditemui di suatu tempat dan tidak bisa ditemukan di tempat yan lain.</p>
<p> Ditulis oleh : <a href="http://daengrusle.com/" title="Ruslailang Noertika"><strong><font color="#990000">Muh.Ruslailang Noertika</font></strong></a></p>
<p> Diolah dari berbagai sumber:</p>
<p><strong>1.</strong> Catatan pribadi, selama bekerja di PT INCO (2004-2006)</p>
<p><strong>2. </strong>Internasional Symposium the Ecology and Limnology of The Malili Lakes – LIPI, 20-22 Maret 2006 di Hotel Salak, Bogor-Jawa Barat. Atas izin pihak Govrel PT INCO</p>
<p><strong>3.</strong> Wikipedia <strong>4.</strong> WeBlog: <a href="http://jalansutera.com/" title="http://jalansutera.com/"><font color="#b96d00">http://jalansutera.com</font></a>, Weblog pribadi milik Pujiono (melalui konfirmasi)</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musstory.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musstory.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musstory.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musstory.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musstory.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musstory.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musstory.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musstory.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musstory.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musstory.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musstory.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musstory.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musstory.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musstory.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musstory.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musstory.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=31&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musstory.wordpress.com/2008/03/11/potensi-alam-di-sulsel-bag2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc30feeab31c41e9f76206e273929c15?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/sunrise-matano.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sunrise Matano</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/map-matano.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Peta Danau Matano</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Danau Matano-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Danau Matano-2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/files/2007/11/matano3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Danau Matano-3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</title>
		<link>http://musstory.wordpress.com/2008/02/10/salam-redaksi/</link>
		<comments>http://musstory.wordpress.com/2008/02/10/salam-redaksi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 08:48:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musstory</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musstory.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Selamatkan jiwamu<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=20&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://almuslimah.wordpress.com/">وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</a></p>
<p> </p>
<p>surat ini menggambarkan pentingnya waktu bagi manusia, kebanyakan manusia mengakuinya. Namun sayangnya mereka yng mengakuinya belum tentu memanfaatkan waktu secara seimbang, yaitu waktu untk dunia dan untuk akhirat, kebanyakan kita masih menyibukan diri untuk dunia, wahai jiwa sadarilah hal itu dan segera bertobatlah&#8230;..</p>
<p>Hal yang terpenting dalam hidup ini adalah disaat kita bisa mengerti untuk apa waktu sekarang, sungguh beruntung orang yang dapat memahami hal tersabut. Alangkah damai dan nyaman hidup ini disaat kita paham akan keman nantinya kita kembali, orang yang paham akan hal tersebut tentunya akan meminimalkan waktu yang akan terbuang sia tanpa ada hasil yang dicapai.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musstory.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musstory.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musstory.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musstory.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musstory.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musstory.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musstory.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musstory.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musstory.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musstory.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musstory.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musstory.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musstory.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musstory.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musstory.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musstory.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musstory.wordpress.com&amp;blog=2582449&amp;post=20&amp;subd=musstory&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musstory.wordpress.com/2008/02/10/salam-redaksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc30feeab31c41e9f76206e273929c15?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslih</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
